SEJARAH DESA PELA

Desa Pela termasuk desa tertua dalam wilayah Kecamatan Kota Bangun , yang awal berdirinya adalah sekelompok warga dari Kalimantan Selatan yang berprofesi sebagai nelayan melakukan urbanisasi untuk mencari penghidupan yang lebih layak di Provinsi Kalimantan Timur, dalam sejarah yang kita terima cerita dari mulut ke mulut sekelompok warga tersebut berjumlah 10 kepala keluarga dengan jumlah jiwa 35 jiwa , peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1901, semula mereka membabat hutan untuk keperluan pemukiman didekat sungai loa kembang, namun tidak lama bermukim disana disebabkan wilayah pemukiman tersebut masuk kedalam wilayah reservat Loa Kang. Menurut sejarah masyarakat Kutai ,bahwa Reservat Loa Kang sudah terbentuk -+ 545 tahun silam dengan luas wilayah reservat seluas -+ 700 Ha, yang meliputi wilayah desa Liang dan Desa Pela,reservat Loa Kang mulanya adalah tempat Keluarga Kerajaan Kutai Ing Martadipura dan masyarakat Kutai pesta menangkap ikan untuk konsumsi selama diselenggarakannya pesta erau.

Tahun 1902 masyarakat yang mendiami atau bermukim diseputaran areal reservat berpindah ke Sungai Pela, setelah bebarapa lama bermukim di muara loa kembang , kelompok warga tersebut bergeser masuk lebih kehulu dan ada juga yang membuka lahan pemukiman dan perkebunan disungai Palla dan sungai Bioko agar lebih dekat ke danau. Dari tahun ke tahun penghidupan mereka semakin membaik dan penduduk yang datang semakin bertambah, pada sekitar tahun 1960 atau sebelum atau sesudahnya , dibangun Sekolah Dasar ( SD Nomor 15 ).

Jauh sebelum berdirinya Sekolah Dasar SD No.15 , aktifitas belajar anak-anak Desa Pela menyebar kedesa Liang ( Kedang Kayu Bunga).

Pada tahun 1902 menurut cerita dari mulut ke mulut terbentuknya Pemerintahan Desa Pela dengan nama Kampoeng Pela.

ASAL USUL NAMA DESA PELA

Banyak versi yang menyebutkan asal usul nama Desa Pela , versi yang mengemuka yang tersaji dengan fakta yang ditemukan saat ini.

Pela berasal dari kata Mappalaie ( Bahasa Bugis) artinya Panas.

Mulanya ; datang sekelompok nelayan dari Bugis dengan beberapa perahu untuk membangun pemukiman diareal danau semayang ,pada saat itu bertepatan dengan terjadinya musim kemarau ,danau semayang pada saat itu belum terbentuk seperti saat ini ,danau tersebut masih berbentuk rawa-rawa yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar sebagian.

Maka kelompok baru yang mau bermukim ini mendapat kesulitan untuk membuka lahan pemukiman lantaran dimana-mana terjadi kebakaran hingga terbentuk cuaca panas yang cukup panas ,tanah panas,air panas , udara juga panas. Kemudian kelompok dari etnis Bugis ini bergeser agak kehilir (timur) yang akhirnya bergabung dengan masyarakat yang sudah lebih dahulu bermukim di sungai Liling dan sungai Bioko, tersebab hampir setiap waktu dan saat selalu terselip kata MAPPALAIE , udara MAPPALAIE ,air MAPPALAIE , tanah MAPPALAIE........akhirnya pada saat akan terbentuknya Kampoeng devinitif maka bermusyawarahlah sejumlah tokoh-tokoh terkemuka untuk melakukan pemberian nama kampoeng. Pada saat musyawarah ini suara terpecah menjadi dua kelompok , satu kelompok menghendaki nama kampoeng ini dengan sebutan KAMPOENG PELARIAN (kelompok Banjar),kenapa harus bernama PELARIAN ? karena kampoeng ini adalah merupakan tempat stragis untuk persembunyian masyarakat asal Kalimantan Selatan dan daerah lainnya yang tak sudi bekerjasama dengan penjajah. Kelompok lain dengan nama KAMPOENG MAPPALAI, bukan tanpa alasan ,karena pada saat itu situasi dan kondisi kampoeng benar-benar dalam keadaan cuaca panas, adalah sekelompok nelayan etnis Bugis yang bermukim mencari ikan didanau Semayang.

Alhasil ada seorang tokoh yang terkemuka disegani ,berwibawa arif bijaksana (namanya tidak ada yang tahu , sebagian mengatakan dari etnis Kutai), angkat bicara dengan dan tanpa mengurang arti dan makna kampoeng ,maka diberi nama kampoeng ini dengan nama Kampoeng Pela , adalah merupakan perpaduan dua kata,”PELARIAN (bahasa Banjar = Penghulu) dan MAPPALAIE ( bahasa Bugis = Panas).

Setelah itu mulai terbentuk pimpinan Pemerintahan dengan sebutan Petinggi/Kepala Kampoeng dalam Pemerintahan Kampoeng Pela.

Pada tahun 1970 , desa hanya memiliki 3 rukun tetangga , desa Pela pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Desa, dengan jumlah penduduk 220 kepala keluarga atau 850 jiwa.

Pada tahun 1974 , dilakukan pengambilan Pesut Mahakam untuk mengisi tempat rekreasi tempat wisata Ancol Jakarta , merupakan hasil kesepakatan antara Gubernur DKI Jakarta , Gubernur Prov. Kalimantan Timur dan Bupati Kutai.

Pada tahun 1985 , sekelompok mahasiswa dari UNMUL melakukan KKN ( Kuliah Kerja Nyata ) didesa Pela , pada saat itu bertepatan dengan banjir yang cukup besar melihat keadaan yang demikian spontan kelompok mahasiswa ini mengambil langkah inisiatif untuk mengungsikan penduduk ketempat yang lebih tinggi dan aman dari banjir, inisiatif mahasiswa ini disambut baik oleh masyarakat. Akhirnya dilakukan musyawarah dengan Pemerintah desa dan seluruh unsur masyarakat , maka disepakati lokasi pengungsian ke Sangkuliman , 2/3 penduduk bersedia untuk diungsikan, sedangkan 1/3 tetap bertahan dengan berbagai alasan.

Pada awalnya tahap satu dibangun perumahan Bandes Provensi Kalimantan Timur sebanyak 25 buah rumah peruntukan aparat pemerintah desa pada tahun 1987 , selanjutnya pada tahun 1989 dibangun lagi 82 buah rumah dan 1 buah gedung sekolah dasar , 1 buah mesjid , kantor desa dari hasil gotong royong , selanjutnya pada tahun 1991 Pemda Kutai membebaskan lahan untuk pemukiman seluas 6 ha , pada tahun 1992 dibangun lagi 66 buah rumah.

Sebelumnya pada tahun 1989 pusat pemerintahan telah dipindah ke Pela Baru/pemukiman yang baru , pada saat itu desa Pela terbelah menjadi 2 dusun dengan 9 Rt. 1 dusun di Pela Baru dengan 6 Rt. Dengan jumlah penduduk 169 KK , di Pela 1 dusun dengan 3 Rt atau 51 KK /175 jiwa.

Sejak terbelahnya penduduk/desa , terjadi kesenjamgan dalam pembangunan , masyarakat yang masih tinggal di Pela Lama (sebutan saat itu),diterbelakangkan baik SDM , Ekonomi , infrastruktur dll , merasakan hal yang demikian timbul keinginan dibenak masyarakat untuk menuntut keadilan sesuai dengan apa yang diamatkan oleh UUD ’45 , bab X , Warga Negara pasal 27 dan bab XIV Kesejahteraan Sosial.

Maka pada awal reformasi tahun 1997 , terjadi revolusi pemikiran dari masyarakat Pela untuk mengembalikan pusat Pemerintahan desa Pela , maka pada saat itu terbentuklah tim pemekaran desa, setelah terbentuk tim pemekaran maka tim mulai bekerja dengan mangambil langkah-langkah , mengumpulkan data tata cara pemekaran dan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam aturan pemekaran. Pada tahun 1999 , pengajuan berkas dimulai , tapi tidak direspon oleh Pemerintah dari Kecamatan hingga Kabupaten , pada tahun 2003 dengan pendekatan pendekatan persuasive dan lobi-lobi dengan tokoh-tokoh yang berwenang terhadap pemekaran desa, usulan pemacahan desa dapat diterima , dengan catatan bukan Pela yang dimekarkan tetapi dusun Sangkuliman , alhasil pada tahun 2010 pusat Pemerintahan Pela dapat dikembalikan ke desa induk Pela , selanjutnya pada tahun 2012 sebagai desa yang defenitif Sangkuliman melaksanakan pemilihan kepala desa yang pertama.

Setelah terpecahnya dusun Sangkuliman dan Dusun Nusa Ramah , maka geliat pembangunan di Desa Pela mulai terlihat. Setelah terbitnya UU No. 6 Tahun 2014 , tentang Desa , maka geliat pembangunan di Desa Pela semakin tambah maju karena kecerdasan warganya dalam memanfaatkan sumber daya alam dan potensi desa yang tersedia untuk dimanfaatkan secara maksimal untuk kesejahteraan bersama masyarakat Pela.

Pada tanggal 16 juni 2018 , maka status nama Desa Pela berubah menjadi Desa Wisata Pela yang diresmikan oleh Bapak Edi Damansyah sebagai Bupati Kutai Kartanega dengan Surat Keputusan No. Yang sebelumnya telah terbentuk Kelompok Sadar Wisata Desa Pela , dengan Surat Keputusan No. ... dari Kepala Dinas Kabupaten Kutai Kartanegara , sebagi desa ekowisata desa Pela telah mendapatkan beberapa trofy diantaranya Peserta Terbaik ke 3 dalam lomba Pokdarwis Se-Kaltim dan juara terbaik 2 dalam pendampingan pokdarwis perguruan tinggi se-Indonesia.