Profil Desa Wisata Pela

Desa Pela merupakan sebuah Desa yang terletak dipedalaman Kecamatan Kota Bangun dalam Kabupaten Kutai Kartanegara Provensi Kalimantan Timur.

Desa Pela terletak antara 116°27 BT - 116°24 BT dan 0°07 LS - 0°36’LS dengan luas wilayah 2.724 Ha , secara administratif desa Pela terbagi dalam 6 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah penduduk 155 Kepala Keluarga (KK) atau 554 Jiwa (Data tahun 2018). Sebagian Desa Pela dikelilingi oleh sungai , rawa dan danau.

Pada Hikayat Banjar , cerita tentang Kesultanan Banjarmasin (1663) , disebutkan bahwa ada pemukiman tertua yang terletak antara Kutai Kartanegara dan Kerajaan Kutai Lama yang bernama Kota Bangun . Hikayat Banjar ini pernah dibukukan di Malaysia oleh Johannes Jacobus pada tahun 1990. Dalam Hikayat tersebut tidak diceritakan adanya desa-desa secara keseluruhan yang dimaksud hanyalah Kota Bangun dengan luas wilayah 1.143.74 Km².

Desa Pela diperkirakan ditemukan pada tahun 1866 oleh sekelompok orang tawanan pelarian dari kerajaan Banjar , yang pada kala itu Desa Pela masih dalam bentuk hutan belantara , yang hanya ada anak sungai dan rawa-rawa , yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar seperti : Kahoy , Rengas Rapeh , Resak , dan jenis-jenis kayu meranti lainnya , dan juga pada kala itu banyak sekali terdapat binatang dan hewan-hewan besar dan kecil , seperti Buaya , pesut , Bekantan , Monyet dan ratusan jenis burung.

Seiring dengan perkembangan waktu dan zaman dan Pela ( belum bernama Pela saat itu) , dirasakan aman dan cocok buat pelarian ,maka mulailah orang-orang pelarian itu membabat hutan buat tempat tinggal dan tempat usaha , pada saat itu diperkirakan jumlah mereka 7 kepala keluarga atau 25 jiwa, mereka pertama berdiam di Sungai Palla (anak sungai Pela) saat ini. Pada tahun –tahun berikutnya terjadi kemarau panjang yang menyebabkan seluruh hutan terbakar , karena pepohonan tersebut tumbuh diatas rawa maka setelah kebakaran tersebut berakahir , maka terbentuklah sebuah kubangan yang sangat luas , kubangan besar itulah cikal bakal terbentuknya danau , pada saat itu sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pemungut damar dan yang lainnya bermata pencaharian sebagai pencari ikan.

Setiap tahun jumlah warga yang datang ke Pela selalu bertambah yang mayoritas pendatang berasal dari Banjar ada juga dari Bugis yang datang sekedar berdagang dan menangkap ikan tapi mereka tidak menetap di Pela , mereka adalah manusia perahu , selain kedua suku itu ada juga sub dari suku Dayak yaitu Tunjooy , ini dibuktikan dengan beberapa nama tempat yang menggunakan bahasa Dayak Tunjung , seumpama Tanjung Lungun* / Tanjung Taman Nuh** selain itu ada juga nama tempat yang menggunakan bahasa Kutai yaitu Sungai Liling, Pulau Halat *** dominannya nama-nama tempat yang ada di Pela menggunakan bahasa Banjar umpama Luwah Bioko*. Labak Braw , Tanjong Rapeh , Saguntur , Gunung Talo , Danau Bulat , Danau Paridang , Kalan Berunei dll.

Nama Desa Pela ditemukan oleh penulis pada tahun 2008 , hasil pembicaraan penulis dengan tokoh (tutuha masyarakat Pela)

Diceritakan asal nama desa Pela , pada saat itu terjadi musim kemarau yang sangat panjang , dimana-mana cuaca terasa panas , hingga angin yang bertiup membawa hawa panas. Pada saat itu datang sekumpulan orang dari negeri Bugis ,mereka datang dengan maksud mencari ikan dan berdagang , berhubung cuaca sangat panas maka mereka memutuskan untuk beralih mencari tempat yang lebih aman dan stragis untuk memulai usaha mareka dengan dialog dengan warga yang sudah bermukim lebih dulu “Kenapa balik .... serta merta dijawab “Mappelae” yang artinya “Panas” (cuaca saat itu).

Cerita selanjut pada tahun berikutnya masyarakat yang sudah bermukim di Muara Palla berpindah pemukiman ke bantaran sungai yang lebih dalam yaitu sungai Pela . Sekira tahun 1897 maka mulai terbentuk suatu aturan pemerintahan yang di kepalai oleh kepala “Adat” (tidak ada data ) hingga sekira tahun 1924 , maka terbentuklah pemerintahan definitif dan pemberian nama desa menjadi Kampoeng Pela , pemberian nama Kampoeng Pela berasal dari penggabungan Kata Pelarian dan Mappelae , hasil kesepakatan seluruh masyarakat saat itu maka terbentuklah nama desa menjadi Kampoeng Pela dengan susunan pemerintahan ;

Kepala Kampoeng dengan sebutan Petinggi , Sekretaris Desa disebut Juru Tulis , Pengirak .......dst.

Kepala Kampoeng Pertama Gafar ( 1930-1952) tanpa melalui proses pemilihan hanya menggunakan sistem ketokohan, setelah itu ditunjuk langsung oleh Kepala Kampoeng pertama kepada nama “Jantur” sebagai Petinggi yang Kedua ( sekitar tahun 1952- 1966).

Dan sekarang Kepala Desa pela di kepalai oleh putra terbaik dari desa Pela yang sangat mengenal wilayah serta sejarah desa pela yaitu Bapak "SUPYAN NOOR" Yang telah Menjabat Selama 2 periode melalui pemilihan langsung.

Dan Desa Pela Telah Diresmikan Menjadi DESA WISATA PELA Oleh Bupati Kutai Kartanegara Bapak Drs. Edi Damansyah M.Si Pada Tanggal 16 Juni 2019. Desa pela juga termasuk desa wisata kutai kartanegara yang menyuguhkan pesona sunset di danau semayang dan juga menjadi kawasan ekowisata pesut mahakam...